banner 728x250
Travel  

Pegunungan Ahuawali , Destinasi Baru Negeri di Atas Awan Konawe

banner 120x600
banner 468x60
Suasana puncak gunung ahuawali di Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara (Sultra).

Pengunungan Ahuawali di Kecamatan Puriala Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam setahun terakhir ini ramai dikunjungi wisatawan lokal. Pesona keindahan alamiahnya membuat masyarakat tak pernah puas untuk mengunjungi dan menikmati pemandangan bukit yang disebutnya ‘negeri di atas awan’ ini.

Istilah itu ramai diperkenalkan di media sosial oleh wisatawan lokal yang pernah datang ketempat itu. Karena berada di atas puncak ketinggian 750 Meter Diatas Permukaan Laut (MDpl) . Ketika menjelang fajar gunung ini kerap awan menyelimuti separuh hamparan gunung. Sehingga disebutnya ‘negeri diatas awan.

banner 325x300

Tetapi masyarakat setempat sekitar pegunungan itu lebih akrab menyebutnya gunung ahuawali yang memiliki mitos yang sesuai dengan sebutannya yakni ahua adalah sumur dan wali adalah jin. Jadi ahuawali adalah sumur jin. Karena di sekitar gunung itu terdapat sumur tua yang disebut ahua wali.

Terlepas dari ceritas mitos ini. Pegunungan ahuawali tersimpan pesona alam yang begitu indah dipandang mata. Menyejukkan hati dan fikiran. Sehingga paling tidak obyek wisata ini bisa menjadi alternatif pilihan bagi anda yang ingin berwisata melepas kejenuhan di akhir pekan.

Letak pengunungan ini berjarak tempuh sekitar 64 kilometer perjalanan dari Kota Kendari, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan tempo paling lama dua jam perjalanan darat. Sementara dari Kota Unaaha Kabupaten Konawe jarak tempuh kurang dari 1 jam perjalanan.

Jika hendak berwisata di tempat ini. Siapkan fisik dan bekal supaya kuat mencapai puncak gunung tersebut. Puncak ahuawali tak dapat dilalui kendaran. Sehingga wisatawan akan meninggalkan kendaraan di titik star. Untuk menjajaki penggunungan itu dengan gaya khas treveling hingga sampai mencapai puncak.

Sehingga lebih banyak wisatawan yang datang ke tempat ini adalah mereka yang suka berpetualang mendaki gunung. Serta didominasi usia-usia produktif.

Menjadi kesan tersendiri. Ketika para wisatawan berlomba-lomba mencapai puncak. Karena bukan hal yang membosankan dalam ekspedisi itu suasana alamnya, sepanjang mata memandang ada obyek lain yang bisa dilihat sebagai penyemangat, seperti lembah savana, bentangan sawa, suara burung merdu, serta pepohohan rindang yang jarang terlihat di tengah kota.

Banyak wisatawan memilih waktu di sore hari dan berjalan bergerompol untuk mendaki puncak ahuawali. Karena terik sinar matahari yang sudah turun dari upuk. Serta dapat saling membantu jika salah satu wisatawan lainnya mengalami hambatan saat berjalan kaki mencapai puncak.

Jika memulai perjalanan jam 05.00 sore wisatawan bisa tiba dipuncak sekitar 06.00 sore.

Setibahnya di puncak. Para wisatawan mendirikan tenda . Mereka yang membawa bekal akan mengeluarkan bekalnya untuk disantap dengan cara lesehan bersama.sambil membakar api unggun. Bernostalgia menunggu fajar tiba.

Waktu fajar adalah momen yang paling ditunggu-tunggu. Dimana alam pengunungan itu memberikan fenomena yang paling indah. Kabut awan dari langit menyebar turun ke dasar sehingga nampak terkesan puncak gunung itu lebih tinggi dari awan.

Beberpa jam kemudian disusul dengan pemandangan dimana matahari mulai keluar di balik pegunungan lainnya memulai memancarkan sinarnya di bumi di hari itu.

Momen ini selalu menjadi incaran para wisatawan untuk berlomba-lomba diabadikan sebagai spot langka untuk wisatawan berselfi menggunakan handphone.

Kepala Desa Ahuawali, Sugeng mengatakan, pegunungan ahuawali akhir-akhir ini memang banyak dikunjungi warga. Kedatangannya dalam rangka berwisata di pegunungan itu.

Biasanya waktu yang paling ideal banyak dikunjungi pada Sabtu sore dan pulang di Munggu pagi. Saking banyaknya warga yang berdatangan, ia kerap menemui para wisatawan itu sebelum memasuki kawasan pegunungan dengan memberikan peringatan.

“Yah. Peringatan itu berupa etika dan norma ketika berada di kawasan pegunungan. Pegunungan ini punya cerita mitos yang dipercaya oleh masyarakat. Sehingga saya kerap ingatkan supaya warga yang berdatangan di kawasan itu untuk tidak membuat onar. Seperti membawa minuman keras dan obat-obatan terlarang. Serta melakukan sex bebas di tempat itu,”tuturnya.

Ia mengaku, mendukung adanya aktifitas di kawasan pegunungan ahuawali . Karena memiliki dampak ekonomi terhadap masyarakat. Masyarakat banyak yang berdagang di titik star. Serta pemuda desa juga banyak yang menerima jasa parkir. Dengan menjaga keamaan kendaraan para wisatawan saat berada di atas puncak ahuawali itu.

“Saya juga kerap mengingatkan mereka supaya menjaga kelestarian alam. Tidak meninggalkan api. Dan membuang sampah sembarangan,”tuturnya.

Salah satu wisatawan Restu mengaku, dirinya sudah seringkali naik di puncak ahuawali. Pesona alamnya sangat indah dipandang mata.

“Banyak fenomena alam yang indah. Dan sangat langkah. Sehingga kalau lagi suntuk saya bersama teman-teman ke tampat ini. Lagi pula biayanya tidak banyak cukup untuk biaya trasportasi sama logistik saat berada di puncak. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke daerah lain. Di puncak ahuawali juga tidak kalah indahnya dengan puncak yang lainnya,”tutur warga Konawe ini.
(***)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.