
UNAAHA, SULTRAHEADLINE.COM. Ambruknya dinding Bendung Ameroro yang terjadi pada Selasa (12/09/2023) lalu, saat ini terus menjadi sorotan dari berbagai pihak.
Pasalnya Proyek Strategi Nasional (PSN) yang berada di Desa Tamesandi, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe itu tiba-tiba Ambruk dan penyebab ambruknya bangunan senilai Rp.1,5 Triliun tersebut belum diketahui.
Beberapa pihak pun mempertanyakan kualitas kontruksi PSN yang dikerjakan PT. Hutama Karya, karena bangunan yang belum diresmikan oleh Pemerintah itu telah runtuh. Dan beberapa vidio detik-detik runtuhnya bangunan tersebut terekam oleh kamera para warga dan pekerja yang berada dilokasi tersebut.
Kejaksaan Negeri (Kejari) Konawe atas kejadian tersebut akan melakukan klarifikasi dengan pihak rekanan yang melalukan pembangunan Bendungan Ameroro. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Seksi (Kasi) Pidsus, Kejari Konawe, Rekafit Mendi saat dikonfirmasi media ini, yang mengatakan akan memeriksa beberapa pihak dari pihak rekanan pembangunan Bendungan dengan luas 244,51 Hektar itu.
“Informasinya sudah beredar di media-media tentang ambruknya salah satu kontruksi bangunan bendungan, olehnya itu kami akan memanggil pihak mereka untuk melakukan kalrifikasi,” katanya.
Saat ditanya apakah ada dugaan gagal kontruksi yang atas ambruknya salah satu sisi bangunan Bendungan yang disinyalir berbau korupsi, Mantan Kasi Pidsus Kejari Kolaka itu belum bisa memastikan. Olehnya itu pihaknya akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu.
“Makanya akan kami panggil untuk melakukan klarifikasi, nanti dilihat bila ada indikasi terjadi tindakan dugaan korupsi pastinya akan ada proses hukum,” tegasnya.
Untuk diketahui, Bendung Ameroro ini didesain dengan tipe urugan yang memiliki tinggi puncak mencapai 82 meter, panjang bendungan 324 meter, dan lebar 12 meter. Kapasitas tampung Bendungan Ameroro sebesar 54,53 juta m3 dengan luas genangan 244,06 hektare.
Total anggaran, yang terkontrak pada PSN itu sebesar Rp1,428 triliun, yang meliputi paket pertama senilai Rp910,136 miliar dan paket dua mencapai Rp518 miliar. Proyek nasional ini melibatkan kontraktor pelaksana paket 1 yakni PT Wijaya Karya. Sedangkan, paket 2 dikerjakan kontraktor pelaksana PT Hutama Karya.
Penulis: Dedy/SH












