Menu ✖

Mode Gelap
Kunker ke Sultra, Menko Pangan Tegaskan Komitmen Ketersediaan Pangan Nasional Ridwan Bae Prioritaskan Muna Barat, Dorong Program Jalan dan Irigasi Konawe Bersiap Gelar Bulan Inovasi dan Perkuat Satu Data Digital Konawe Raih Penghargaan Terbaik I Pengelolaan DAK Fisik Sultra 2026 Gotong Royong Polsek Meluhu dan Warga Timbun Jalan Poros Meluhu-Lasolo

Konawe · 21 Apr 2021 23:38 WIB ·

Potret Kartini Jaman Now di MI Morosi, Bersaing dengan Kaum Adam Demi Hidup Mandiri


					Potret Kartini Jaman Now di MI Morosi, Bersaing dengan Kaum Adam Demi Hidup Mandiri Perbesar

UNAAHA.SULTRAHEADLINE.COM. Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, merupakan wujud peringatan dan penghormatan atas perjuangan kaum perempuan, simbol kesetaraan gender, serta emansipasi wanita.

Di jaman now sekarang ini, perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini kini berbuah manis. Segala keterbatasan hak-hak kaun hawa berlahan menghilang pada masa kini.

Emansipasi wanita yang diperjuangkan RA Kartini, kini begitu terasa di Mega Industri (MI) Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang meliputi dua perusahaan PT. Virtue Dragon Nikel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS).

Meski bergerak di bidang industri pemurnian biji nickel yang identik dengan kaum adam, perusahaan tersebut tetap memberikan kesempatan pada kaum hawa untuk bersaing memberikan yang terbaik.

Para pekerja wanita di tengah areal industri tersebut, kini semakin menjamur. Berpakaian seragam dengan sepatu kerja setinggi betis, berompi dan mengenakan helm, ibarat telah menjadi makanan sehari-hari untuk para kaun perempuan tersebut.

Satu diantara wanita yang memilih profesi sebagai karyawan MI Morosi adalah, Renita. Wanita kelahiran Kendari, September 1989 lalu ini, bergabung sebagai operator jembatan timbang sejak 2019 lalu. Keinginan memperoleh penghidupan yang lebih baik, membawa langkahnya memasukkan lamaran ke PT VDNI.

“Pastinya, debu begitu bersahabat dengan kami yang di timbangan, namun kami juga tetap mengupayakan tampil cantik,” ceritanya, Rabu (21/04/2021) saat ditemui kos-kosannya di area kampung jawa.

Alasan dirinya bekerja di PT VDNI, karena ingin mencari pengalaman kerja di luar dari basic yang dimilikinya. Disamping itu, wanita lulusan S1 Keperawatan itu mengaku ingin mendapatkan pengalaman baru yang menantang.

“Bekerja disini banyak hal yang menyenangkan. Namun, ada hal harus korbankan, seperti jam kerja yang cukup berat bagi seorang wanita, tetapi saya sangat nyaman menjalaninya,” jelasnya.

Menurutnya, jika dirinya bekerja sesuai jurusan saat kuliah, mungkin saat ini telah menjadi tameng terdepan menghadapi pandemi covid-19 dengan menjadi perawat. Karena sebelumnya dirinya pernah mengabdi di salah satu Puskesmas. Tetapi, takdir berkata lain, dirinya saat ini mengaku nyaman bekerja dengan teman sekop ketika membersihkan jembatan timbang.

“Karena tuntutan pekerjaan, saya yang dulunya pegang suntik, kini malah pegang sekop. Dan awalnya tidak pernah pegang sekop tapi akhirnya jadi terbiasa. Ini menjadi pengalaman unik buat saya bahwa hidup tidak selamanya berjalan lurus, kadang kita harus mencoba hal baru,” tutupnya.

Pekerja wanita lainnya, Indrawati (28) mengaku berterima kasih kepada RA Kartini yang telah memperjuangkan nasib kaum wanita di eranya. Berkat perjuangannya, wanita masa kini dapat berkarier di bidang yang dianggap hanya milik laki-laki seperti pertambangan atau industri.

Karena menurutnya, wanita tidak selamanya menjadi sosok yang lemah dan lembut. Jika pada umumnya para wanita sangat mengidamkan kerja di kantoran dengan ruang dilengkapi pendingin ruangan. Akan tetapi, tidak terjadi pada dirinya.

“Ketika wanita lain bekerja dari pagi sampai sore dan malamnya untuk istirahat, tetapi saya malam harus harus bekerja sampai begadang. Tidak ada waktu untuk jalan-jalan dan menahan rindu terhadap keluarga, karena lama baru bisa ketemu,” ujarnya.

Namun, itu semua tidak membuat semangatnya pupus demi menghasilkan pundi-pundi rupiah yang halal berkat tetesan keringatnya. Sebab, dirinya mengetahui konsekuensi untuk mendapatkan penghasilan cukup lumayan.

“Dalam bekerja, semua dituntut profesional. Tidak memandang pekerja laki-laki atau perempuan, memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sesuai upah yang diperoleh,” katanya.

Dikatakannya, semua butuh proses, termasuk pekerjaan. Dunia kerja di areal industri yang penuh risiko dilakoninya dengan rasa senang.
Berteman dengan pekerja yang mayoritas laki-laki pun sudah dianggap biasa, tidak ada rasa risih.

“Saya ingin menjadi wanita yang luar biasa. Mandiri, bekerja keras dan tidak bergantung pada orang lain. Ada kepuasan tersendiri bila bisa mencari uang sendiri,” tuturnya.

Penulis: Dedy/SH

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Baca Lainnya

Kunker ke Sultra, Menko Pangan Tegaskan Komitmen Ketersediaan Pangan Nasional

6 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Konawe Bersiap Gelar Bulan Inovasi dan Perkuat Satu Data Digital

23 September 2026 - 04:11 WIB

Konawe Raih Penghargaan Terbaik I Pengelolaan DAK Fisik Sultra 2026

22 September 2026 - 14:28 WIB

Gotong Royong Polsek Meluhu dan Warga Timbun Jalan Poros Meluhu-Lasolo

5 September 2026 - 14:39 WIB

Penyegaran Birokrasi Konawe: Wabup Lantik Puluhan Pejabat Baru

5 September 2026 - 13:47 WIB

Berkunjung ke Mubar, Kementerian ESDM Pastikan Tambahan Kuota dan Perbaikan Distribusi BBM

4 September 2026 - 12:51 WIB

Trending di Muna Barat