Pupuk Subsidi Untuk Petani atau Sawit?

0
ilustrasi

UNAAHA, SULTRA HEADLINE.COM. Wakil Bupati Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra),  Gusli Topan Sabara mengatakan, daerah Konawe merupakan daerah agraris yang selama ini menjadi penyumbang terbesar produktifitas padi di Indonesia. Dan untuk mempertahankan  status lumbung beras  ini, perlu  sinergitas dan perhatian pemerintah pusat.

Salah satu diantaranya, terikat kebijakan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) dan bantun pupuk bersubsidi. Berkaitan dengan ini Pemkab mengalami keterbatasan dalam mendukung kegiatan usaha para kelompok   petani binaan di daerah basis persawahan di Konawe.

“Kita terkendala dalam pengadaan pupuk subsidi. Karena sesuai luas lahan produktif di Konawe , seharusnya petani mendapat kuota pupuk bersubsidi ini sebanyak 52 ribu sak pupuk. Namun kenyataannya petani kita hanya mendapat jatah sekitar 12 ribu sak,” terangnya saat diskusi dengan rombongan kunjungan kerja Pemkab Minahasa Tenggara, Selasa (3/11/2020).

Dari jumlah itu, kata Gusli, berarti masih tersisah 38 ribu sak pupuk . kemana sisanya itu? . Gusli menduga, pupuk itu dialihkan untuk kepentingan perusahaan sawit.

“Kita disini di Konawe lahan yang sedang digarap perusahaan sawit seluas 40 sampai 50 hektar. Pertanyaannya dimana mereka mengambil pupuk sebanyak itu?” Tanya Gusli.

Menurut Gusli, perlu ada pengawasan ketat terhadap agen-agen resmi yang telah ditunjuk oleh penyedia pupuk subsidi ini. Kerena manakalah itu benar terjadi, sambungnya, maka sudah sangat merugikan petani kecil.

BACA JUGA :  Genjot Populasi Ternak Sapi, Disnakeswan Konawe Siapkan 9 Ribu Dosis IB

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat saat ini terus memantau kendala-kendala yang sedang dialami para petani. Dan keluhan yang paling umum yakni sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut .

Kemudian, fasilitas pendukung mekanisasi pertanian yakni Alsintan. Gusli berharap, perlu ada peningkatan mutu dan kualitas alat ini dengan meningkatkan dari mesin yang lebih modern , seperti hand traktor ke level roda empat atau jonder .

Selama ini  kendalanya kegiatan pembukaan lahan terkendala dengan sistim mekanisasi pertanian, bahwa 1 unit hand traktor hanya dapat menggarap lahan 1 hektar dengan waktu kerja selama dua hari kerja. Sedangkan jika menggunakan mobil jonder ,1 hari bisa menggarap sawah minimalnya 2-3 hektar.

Supaya bisa mendukung maksimalnya produktifitas padi dan mendukung efektifitas kerja petani,  kata Gusli, maka perlu ada dukungan sistem alsintan robotif.

Dikatakannya, pemerintah pusat telah memetakan daerah Konawe sebagai daerah  agraris dan masuk dalam program prioritas pemerintah pusat.  Namun bagaimana program itu bisa berjalan , kalau kebijakan itu tidak berpihak kepada sektor pertanian. Sehingga dengan ini perlu sinergitas pusat dan daerah. (A)

Penulis : Ibas
Editor : Red

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here